Kecintaan dan Kebencian dalam Kehidupan dan Kematian
Menurut Sigmund Freud dalam dalilnya, ia mengemukakan bahwa "Manusia memiliki dua naluri alamiah yaitu eros dan thanatos yang berarti cinta kehidupan dan kematian." jika dilihat dari nama-namanya, mereka ternyata berasal dari nama-nama Dewa Yunani (Dewa Cinta dan Dewa Kematian).
Manusia mempunyai dua naluri alamiah yaitu, kecintaan terhadap dunia seperti kecintaan terhadap anak dan istri atau Benda-benda duniawi. Sedangkan manusia juga mempunyai Kecintaan terhadap kematian seperti dorongan agresif untuk membunuh dan merusak.
Kecintaan terhadap dunia, pentingkah bagi manusia?
Sebenarnya kecintaan terhadap dunia sudah terjadi pada diri manusia karena itu (Eros) merupakan sifat naluriah manusia. Akan tetapi, manusia tidak boleh lupa bahwa Dunia ini adalah fana. Apa yang mereka cintai di dunia suatu saat akan mati. Bencilah pada dunia! Mereka semua hanya menipu mu. Mereka mencuri jiwa mu dengan kesenangan. Lihatlah kaum-kaum tertindas, mereka ditindas mengatasnamakan dunia. Lihatlah mereka dari dekat. Bencilah pada dunia mu sendiri! Simpanlah kebencian itu sangat dalam dan kuat hingga pada akhirnya, Dirimu akan menyadari bahwa Kecintaan itu menghasilkan kebencian yang kuat.Kebencian pada dunia, pentingkah bagi manusia?
Sebenarnya kebencian terhadap dunia sudah terjadi dalam diri manusia itu sendiri, Ia yang merasa tidak adil dan tertindas paling banyak merasakan-nya. Sadarilah, Manusia memerlukan kebencian pada dunia agar dapat mendorong dirinya berkembang. Sadarilah, Orang-orang sukses diluar sana sebetulnya bangkit menggunakan kebencian yang tanpa mereka sadari menimbulkan dorongan (Positif) pada dirinya. Seberapa pentingkah kebencian dalam diri manusia? Tentu sangat penting.Kebencian dan Kecintaan dalam Kehidupan dan Kematian
Definisi benci menurut Penguin Dictionary of Psychology (Wikipedia) adalah “emosi yang dalam dan bertahan kuat...". Manusia memerlukan sifat alamiah keduanya. Kebencian dan kecintaan baik terhadap Dunia maupun Kematian. Dua naluri ini, seringkali kita temukan dalam kehidupan sehari-hari seperti seorang bapak yang memukul anaknya untuk mengajarinya arti hidup atau seroang guru yang menendang muridnya. Itu merupakan sifat thanatos yang dicampuri sifat eros. Manusia seringkali menunjukan sifat thanatos ketimbang eros yang memang keduanya saling berlainan. Karena kita tahu bahwa sifat eros yang merupakan manifestasi dewa cinta berbentuk bayi bersayap memegang panah sedangkan sifat thanatos yang merupakan manifestasi dewa kematian berbentuk pria tua bersayap.Kebencian merupakan emosi yang harus manusia kumpulkan sangat dalam dan lama untuk mengapresikannya dalam bentuk kecintaan yang sangat kuat dan dalam. Apabila manusia membenci sesuatu dengan sangat dalam maka ia akan berusaha menghidarinya atau menghilangkannya namun dengan cara apa manusia berusaha menghindari atau menghilangkannya? Dengan dorongan agresif yang destruktif (Merusak dan merugikan orang lain) atau dengan dorongan agresif yang konstruktif (Membangun dan memperbaiki).
Semua tergantung dari diri manusia itu sendiri. Apakah ia mau menanam kebencian semakin lama dan semakin kuat untuk melepaskannya dalam bentuk destruktif atau konstruktif? Itu terserah manusianya. Apabila manusia itu menempuh jalan yang menyulitkan raga dan batinnya sendiri lebih baik jangan. Selama-lamanya, Sebuah kebencian adalah naluri alamiah manusia. Ia tidak serta-merta padam dan hangus. Perlu lawan tandingnya yaitu kecintaan. Dan apabila kebencian mu menimbulkan negatif maka itu---sangat tidak---dibenarkan. Akan tetapi, Jika kebencian mu menimbulkan positif maka itu---sangat---dianjurkan. Sekian.
MARI BUDAYAKAN
SHARE JIKA BERMANFAAT
KOMEN JIKA SELESAI MEMBACA

No comments: